Kamis, 03 Januari 2008

Sastra Jendra

Sastra Jendra disebut pula Sastra Ceta
Suatu hal yang mengandung kebenaran, keluhuran, keagungan akan kesempurnaan penilaian terhadap hal-hal yang belum nyata bagi manusia biasa. Karena itu Ilmu Sastra Jendra disebut pula sebagai ilmu atau pengetahuan tentang rahasia seluruh semesta alam beserta perkembangannya. Jadi tugasnya, Ilmu Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu ialah jalan atau cara untuk mencapai kesempurnaan hidup.

Untuk mencapai tingkat hidup yang demikian itu, manusia harus menempuh berbagai persyaratan atau jalan dalam hal ini berarti sukma dan roh yang manunggal, antara lain dengan cara-cara seperti:
Mutih : makan nasi tanpa lauk pauk yang berupa apapun juga.
Sirik : menjauhkan diri dari segala macam keduniawian.
Ngebleng : menghindari segala makanan atau minuman yang tak bergaram.
Patigeni : tidak makan atau minum apa-apa sama sekali.
Selanjutnya melakukan samadi, sambil mengurangi makan, minum, tidur dan lain sebagainya.
Pada samadi itulah pada galibnya orang akan mendapalkan ilham atau wisik.
Ada tujuh tahapan atau tingkat yang harus dilakukan apabila ingin mencapai tataran hidup yang sempurna, yaitu :

Tapaning jasad
Mengendalikan/menghentikan daya gerak tubuh atau kegiatannya.
Janganlah hendaknya merasa sakit hati atau menaruh balas dendam, apalagi terkena sebagai sasaran karena perbuatan orang lain, atau akibat suatu peristiwa yang menyangkut pada dirinya.
Sedapat-dapatnya hal tersebut diterima saja dengan kesungguhan hati.

Tapaning budi
Mengelakkan/mengingkari perbuatan yang terhina dan segala hal yang bersifat tidak jujur.

Tapaning hawa nafsu
Mengendalikan/melontarkan jauh-jauh hawa nafsu atau sifat angkara murka dari diri pribadi.
Hendaknya selalu bersikap sabar dan suci, murah hati, berperasaan dalam, suka memberi maaf kepada siapa pun, juga taat kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Memperhatikan perasaan secara sungguh-sungguh, dan berusaha sekuat tenaga kearah ketenangan (heneng), yang berarti tidak dapat diombang-ambingkan oleh siapa atau apapun juga, serta kewaspadaan (hening).

Tapaning sukma
Memenangkan jiwanya. Hendaknya kedermawanannya diperluas.
Pemberian sesuatu kepada siapapun juga harus berdasarkan keikhlasan hati, seakan-akan sebagai persembahan sedemikian, sehingga tidak mengakibatkan sesuatu kerugian yang berupa apapun juga pada pihak yang manapun juga.
Pendek kata tanpa menyinggung perasaan.

Tapaning cahya
Hendaknya orang selalu awas dan waspada serta mempunyai daya meramalkan sesuatu secara tepat.
Jangan sampai kabur atau mabuk karena keadaan cemerlang yang dapat mengakibatkan penglihatan yang serba samar dan saru.
Lagi pula kegiatannya hendaknya selalu ditujukan kepada kebahagiaan dan keselamatan umum.

Tapaning gesang
Berusaha berjuang sekuat tenaga secara berhati-hati, kearah kesempurnaari hidup, serta taat kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Mengingat jalan atau cara itu berkedudukan pada tingkat hidup tertinggi, maka:


Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu itu dinamakan pula "Benih seluruh semesta alam."


Jadi semakin jelas bahwa Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu hanya sebagai kunci untuk dapat memahami isi Rasa Jati, dimana untuk mencapai sesuatu yang luhur diperlukan mutlak perbuatan yang sesuai.
Rasajati memperlambangkan jiwa atau badan halus ataupun nafsu sifat tiap manusia, yaitu keinginan, kecenderungan, dorongan hati yang kuat, kearah yang baik maupun yang buruk atau jahat.
Nafsu sifat itu ialah; Lumamah (angkara murka), Amarah, Supiyah (nafsu birahi). Ketiga sifat tersebut melambangkan hal-hal yang menyebabkan tidak teraturnya atau kacau balaunya sesuatu masyarakat dalam berbagai bidang, antara lain: kesengsaraan, malapetaka, kemiskinan dan lain sebagainya.
Sedangkan sifat terakhir yaitu Mutmainah (nafsu yang baik, dalam arti kata berbaik hati, berbaik bahasa, jujur dan lain sebagainya) yang selalu menghalang-halangi tindakan yang tidak senonoh.

Sastra Cetha / Sastra Jendra Hayuningrat

Posisi tidur telentang kaki lurus, telapak tangan masing2 menempel ke paha, telapak kaki kanan menempel ke telapak kaki kiri (posisi saluku tunggal).

Nafas & konsentrasi : tarik nafas (dari pusar) naik ke dada - tenggorokan , kemudian naikkan lagi ke ubun2 , (tahan sekuatnya ), kemudian turunkan lagi perlahan –lahan ke pusar sambil membuang nafas.

Pada saat tarik nafas sambil mengucap batin ‘ huu ‘ pada saat melepas ‘ yaa ‘, setiap tahapan dilakukan 3 kali tarikan/ buang nafas (Tripandurat), kemudian baru istirahat dan kemudian dilakukan lagi .

Semakin lama kita bias menahan nafas (di ubun2) semakin bagus, dgn catatan setiap tripandurat hrs ada jeda istirahat sebentar, pada saat bersatunya rah (darah) atau roh di ubun2 (susuhunan) itulah bisa disebut manunggaling kawula gusti, dalam arti jika nafas naik kita jumeneng gusti dan pada saat turun kita kembali jd kawulo, namun yg dimaksud disini bukan berarti nafasnya tetapi adalah Cipta & rasa nya.
Patrap/konsentrasi semedi ini bias dilakukan sambil beraktifitas sehari2 sambil tetap mengatur jalan nafas dan mantra “huu – yaa” diatas.

Banyaknya orang untuk mengetahui tentang sastra jendra ini diikuti sembah tulus kepadaNya, maka yang diperoleh adalah suatu ajaran hidup yang sumende karsaning widi, berserah kepada Tuhannya. Bila kesemuanya dilakoni maka tentunya akan diperoleh ajaran sejati yang berujud sastra jendra pangruwating diyu, kalau di tempat saya sastra = tulis, jendra = papan. Yaitu suatu ilmu yang diajarkan tanpa perantara, berujud tulisan kang tanpa papan (tulisan tanpa tempat menulis), untuk menuju kesana diperlukan papan tanpa tulisan, atau tempat yang tiada apa apa lagi selain Tuhan itu.

Lalu sastra jendra dikatakan sastra cetha, yang artinya jelas, tetapi kok masih dicari, hal ini mengusik kita, walaupun dikatakan sastra cetha/jelas tetapi tanpa laku yang cukup untuk mengetahuinya, maka niscaya tiada pernah didapat. Sastra cetha sendiri juga mengartikan bahwa siapa yang sudah paham akan isi sastra jendra sendiri akan tiada kesamaran sawiji - wiji, tiada akan bimbang akan isi dunia inikarena sudah yakin akan tujuan hidupnya.

Kemudian tetntang laku awal untuk mencapai hal tersebut adalah dengan samadhi. Samadhi yang dilakukan dengan sungguh pasrah akan kehendak yang Kuasa dan sungguh pasrah atas segala dosa dan hidup kita.

Olah nafas yang dipergunakan adalah nafas halus, yaitu menjaga (bukan mengatur seperti yg lainya) untuk bernafas dengan teratur antara keluar dan masuknya nafas. Tidak boleh ditahan ataupun sengaja dihabiskan. Betul betul bafas teratur seperti kita tidur, jangan sampai goyah. Pikiran dipusatkan kepada jalannya nafas, terus merasakan keluar dan masuknya nafas. Kalau dalam tahap meditasi ini dirasakan atau pun merasa melihat sesuatu, jangan hiraukan terus kepada pemusatan kepada talining urip (nafas). Dengan terus melakukan ini bila berhasil akan mengetahui dengan sendirinya suatu rahasia kemampuan diri kita

Kemudian tetntang laku awal untuk mencapai hal tersebut adalah dengan samadhi. Samadhi yang dilakukan dengan sungguh pasrah akan kehendak yang Kuasa dan sungguh pasrah atas segala dosa dan hidup kita.

Olah nafas yang dipergunakan adalah nafas halus, yaitu menjaga (bukan mengatur seperti yg lainya) untuk bernafas dengan teratur antara keluar dan masuknya nafas. Tidak boleh ditahan ataupun sengaja dihabiskan. Betul betul bafas teratur seperti kita tidur, jangan sampai goyah. Pikiran dipusatkan kepada jalannya nafas, terus merasakan keluar dan masuknya nafas. Kalau dalam tahap meditasi ini dirasakan atau pun merasa melihat sesuatu, jangan hiraukan terus kepada pemusatan kepada talining urip (nafas). Dengan terus melakukan ini bila berhasil akan mengetahui dengan sendirinya suatu rahasia kemampuan diri kita .

Ini yang dikatakan olah rasa, yaitu mengolah dan merasakan rasa jati, berusaha merasakan rasa yang sejati.

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda